yulitaadriyanti12@gmail .com

Manusia Sebagai Makhluk Berprasangka

    Manusia Sebagai Makhluk Berprasangka
       
Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa surga diciptakan brtingkat-tingkat? Jawabannya sangat sederhana, karena manusia tidak diciptakan sama. Allah telah menciptakan manusia beraneka rupa dan sifatnya masing-masing. Ada yang datang tepat waktu, ada pula yang datang terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali. Demikianlah manusia diciptakan berbeda-beda sehingga dapat mengenal dirinya. Melalui perbedaan tersebut, mengundang prasangka masing-masing. Prasangka ini pun menandakan manusia sebagai makhluk yang tergesa-gesa. Prasangka sering kali datang lebih cepat daripada yang kita pikirkan. Banyak orang belum bertanya, namun kita telah lebih dulu memberikan jawaban. Ada orang yang membeli kulkas namun kita yang kedinginan. Prasangka selalu membuat manusianya terpeleset dari kebenaran.
     
      Persepsi manusia pun sebenarnya adalah sebuah prasangka jika ia tidak memiliki landasan yang benar. Hal ini tidak terlepas dari tingkat pemahaman manusia yang berbeda-beda. Akan tetapi, yang perlu dipertanyakan adalah prasangka apa yang dilontarkan oleh manusia itu sendiri. Apakah prasangka baik atau buruk. Masing-masing prasangka ada dampak tersendirinya. Ketika terlalu berprasangka baik maka bersiaplah Anda untuk ditipu. Ketika berprasangka buruk maka bersiaplah untuk menerima doa-doa Anda sendiri. Adanya ungkapan bahwa setiap kata adalah doa dan apabila prasangka buruk ini disebar melalui gosip, desas desus dan sebagainya, maka semakin banyak pula yang mendoakan Anda. Allah berfirman "Manusia mendoakan kejahatan terhadap manusia lain sebagaimana ia mendoakan kebaikan terhadap orang tersebut." Seseorang sering kali ketika melihat yang buruk-buruk akan mendoakan yang buruk-buruk pula. Inilah yang kemudian membahayakan diri sendiri. Seseorang berprasangka buruk tanpa melakukan introspeksi terlebih dahaulu. Sebagai contoh, seorang perempuan yang tidak menutup aurat, disangka tidak melaksanakan syari'at. Lalu kemudian yang berprasangka adalah perempuan yang menutup aurat. Betapa terpelesetnya kita ketika pada kenyataannya adalah berbanding terbalik dengan apa yang dipersepsikan.
      
      Kemasan tidak selamanya sesuai dengan penyajian. Tidak jarang kita jumpai yang memodifikasi kemasan sebaik mungkin untuk menutup aib-aibnya. Hal ini terkait dengan berprasangka yang terlalu baik pada seseorang. Ketika berprasangka baik pada seseorang jenis tersebut, maka bersiaplah kita tertipu oleh kepercayaan yang kita berikan terhadapnya. Hal ini berarti ketika berprasangka terlalu baik terhadap seseorang maka terdapat unsur ketidak mungkinan ketika ia melakukan suatu perbuatan yang tidak menggambarkan karakter yang diperlihatkan. Sebagaimana karakter baiknya yang nampak, namun ada sebuah perilaku tidak terpuji yang bersembunyi di balik yang nampak. Jika saja hal ini terjadi pada makanan, maka ada tiga kemungkinan. Kemungkinan yang pertama: gambar penyajian yang tertera pada kemasan yang tidak sesuai dengan penyajian aslinya namun tidak mengundang mudarat, yang kedua: gambar penyajian pada kemasan tidak sesuai dengan penyajian aslinya namun tidak juga mengundang mudarat, yang ketiga: gambar penyajian pada kemasan sesuai dengan penyajian aslinya namun ternyata ada unsur babi di dalamnya. Kemungkinan ketiga inilah yang paling dihindarkan. Dengan kata lain "ekspektasi tidak sesuai dengan realita" . Dan, di sinilah peranan kita untuk selalu mencari kebenaran yang sebenar-benarnya benar.

      Berprasangka baik dan buruk sudah semestinya dipertimbangkan. Lantaran keduanya sama-sama mengecoh. Orang yang cerdas pasti tahu caranya menyesuaikan diri. Orang cerdas tidak henti-hentinya berintrospeksi diri. Mengamati segala hal yang ada di sekelilingnya. Membuat ia mampu membandingkan antara ia yang kemarin dengan ia pada hari ini. Ia mampu membandingkan yang mana patut atau tidak patut dicontoh. Ada sahabat yang menjelma jadi musuh dan ada musuh yang menjelma jadi sahabat. Seperti itulah kenyataan bermain. Sedangkan prasangka, berprasangka baik (husnuzhan) adalah jauh lebih baik ketimbang berprasangka buruk (su'uzhan) Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa memberi maaf jauh lebih baik daripada membalaskan dendam.

      Ada sesuatu hal yang patut kita berhati-hati yaitu prasangka itu sendiri. Kadang kita berprasangka buruk pada orang lain namun pada kenyataannya prasangka itu jatuh pada diri kita sendiri. Seperti halnya yang terjadi pada Ibra beberapa pekan lalu. Ia menyangka temannya mencuri uang untuk membeli sepatu yang diinginkan. Tetapi pada kenyatannya Rony temannya  telah adalah seorang anak tunggal dari Kepala Sekolahnya. Tidak ada yang tahu tentang fakta Rony tersebut. Sehingga membeli sepatu semahal apapun adalah hal yang lumrah baginya. Sedangkan Ibra dan temannya memang selalu bersama. Namun, ibarat kata mereka selalu bersama namun yang Ibra ketahui dari temannya itu sebatas kulit-kulitnya saja. Ia tidak begitu mengenal Rony sebaik yang ia pikirkan. Beberapa waktu lalu Ibra telah membeli sepatu yang ia idamkan. Sepatu yang tergolong mahal dan trend dipakai oleh anak-anak muda jaman sekarang. Namun ternyata uang yang ia gunakan adalah hasil menjual barang-barang elektronik seperti handphone yang ia curi di beberapa rumah di sekitar kediamannya. Terkait hal tersebut, Ibra berprasangka kepada Rony sebagaimana Ibra berprasangka pada dirinya sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang berprasangka terhadap orang lain adalah tidak terlepas dari pengalamannya sendiri. Apa yang orang gambarkan terhadap orang lain adalah bentuk penggambaran karakter dirinya sendiri. Ada pula uangkapan yang mengatakan "ketika Anda menyinggung orang lain maka yang duluan tersinggung adalah diri Anda sendiri". Ungkapan tersebut secara tidak langsung memberikan kita peringatan bahwa kita tidak bisa mengekstrospeksi orang lain sebelum mengintrospeksi diri sendiri. Karena pada hakikatnya ketika kita memberikan gambaran kita terhadap orang lain maka kita seperti menggambarkan diri kita sendiri.

      Berprasangka itu manusiawi. Dalam Al-Qur'an telah dijelaskan tentang prasangka yang merupakan salah satu sifat manusia. Dan, kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan mereka sendiri. Allah berfrman  "Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Yunus: 36). Ayat ini telah menegaskan bahwa hanya Allah mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan. Terlebih niat kita dalam melakukan segala sesuatu. Prasangka juga tidak hanya sebatas perkara sesama manusia. Tetapi manusia juga berprsangka kepada Tuhannya (Allah). Dalam hal ini Abu Hurairah mengatakan dalam hadisnya:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

      Sebagaimana hadis di atas telah menjelaskan bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Husnuzhan terhadap Allah, itulah prasangka yang semestinya kita tanamkan dalam diri kita. Termasuk misalnya husnuzhan dalam berdoa. Kita sudah sepatutnya berdoa dengan meyakini bahwa doa kita akan terkabul dengan terus menerus berdoa. Hal ini telah menunjukkan sifat husnuzhan kita terhadap-Nya. Akan tetapi, ada hal yang perlu diperhatikan agar doa menjadi terkabul yaitu dengan menghindari pantangan-pantangan yang dapat menghalangi terkabulnya doa.

اُدْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

      Berprasangka baik (husnuzhan) terhadap Allah SWT semestinya menjadi kebiasaan kita. Yaitu dengan mengingat-Nya di setiap keadaan. Bukan hanya mengingat pada saat dalam keadaan susah, tetapi juga mengingat-Nya dalam keadaan suka (senang). Karena Allah berfirman bahwa Allah akan mengingat hamba yang mengingat-Nya bahkan di hadapan makhluk yang lebih mulia daripadanya yaitu malaikat. Begitupun berprasangka terhadap sesama. Kita mesti menjauhi sifat su'uzhan terhadap sesama. Tetapi tidak pula kita luput dengan memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini bukan berarti kita su'uzhan, tetapi kita hanya menghindari kemungkinan terburuk yang akan menimpa diri sendiri. Seseorang mesti tahu kapan ia harus husnuzhan terhadap sesamanya untuk menghindari hal-hal yang tidak seharusnya terjadi.

~Fastabiqul Khaerat~

 

     

     

1 komentar:

Student's Experiences

Jangan Nilai Covernya

Jangan Nilai Covernya      Suatu hari,  seorang laki-laki masuk di restorant yang tergolong elit dengan baju compang camping. Rest...

Jangan Nilai Covernya