yulitaadriyanti12@gmail .com

Modifikasi Gudang Menjadi Kejutan

Buku Pintu Diskusi



                 
          Membaca bukanlah sebuah rutinitas baru bagiku. Akan tetapi bergabung dalam sebuah komunitas literasi, aku mulai memiliki rutinitas baru di luar kuliah yaitu kajian. Hampir setiap hari setelah selesai kuliah aku menyempatkan diri untuk berdi
skusi dengan teman komunitasku. Pro dan kontra pun mewarnai diskusi kami. Pembahasan kami akhirnya sampai pada sebuah buku yang yang berjudul dialektika. Dialektika menurut salah satu ahli. Seseorang diantara kami mengatakan “dialektika itu adalah suatu keadaan dimana realitas kehidupan menutut kreativitas baru dari manusia.” Kemudian yang satunya lagi mengatakan “dialektika itu merupakan suatu keadaan dimana manusia mulai sadar tentang fungsi sesuatu benda dan semacamnya tidak lagi sejalan dengan apa yang ada dalam pikiran manusia.”
           “Aku sepakat dengan hal itu, aku berpikir bahwa Laptop, Hp, kendaraan dan lain-lain yang diproduksi adalah merupakan hasil dialektika yang dilakukan oleh beberapa orang,” kataku yang menambahkan pendapat teman ku. Sehingga manusia terus menerus berpikir bagaimana membuat produk yang akan lebih dan lebih memudahkan manusia dalam segala aktivitasnya dengan kecanggihan teknologi yang ada. Bagaimana pun caranya manusia selalu menuntut agar tercipta realitas baru dari kreativitas baru manusia itu sendiri.
          Aku begitu antusias berpendapat hingga aku tersadar bahwa aku sendiri ternyata selalu menyalahkan pendapat teman ku, aku selalu menyatakan “bukan begitu” kataku. Hanya sesekali aku sepakat dengan pendapat teman ku. Padahal kalau dipikir-pikir mereka jauh melampaui jumlah buku yang mereka baca. Pada saat itu aku baru membaca beberapa buku. Masih kurang dari sepuluh. Akan tetapi, dengan begitu angkuhnya aku mulai menentang teman-teman ku. Aku seperti orang yang sudah paling tahu di setiap perkumpulan baik dalam keluarga, teman kuliah maupun dengan teman komunitas literasi ku. Padahal bukan begitu sikap yang sebenarnya ditunjukkan oleh orang yang bijak. Aku pun berpikir bahwa seharusnya seseorang apabila semakin berilmu maka dia akan semakin bijak. Apapun yang dihadapinya termasuk dalam hal berpendapat. Tugasnya orang berilmu bukan hanya membenarkan pendapat sendiri dengan selalu melakukan pembelaan yang dibumbui dengan apologi. Tatapi orang yang luas wawasannya justru malah selalu menerima setiap masukan yang datang kepadanya dan bukan menolak apalagi meyalahkan sedikit pun. Itu hasil renungan ku di malam hari menjelang dunia mimpi menyapa.
            Keesokan harinya, aku ke taman membawa makanan untuk kucing. Setelah sekian lama, akhirnya ia kembali menggoreskan tulisan di papan tulis. “apa kabar?”
Aku pun membalasnya “baik, nama kamu siapa?” aku pun lekas beranjak dari taman itu. Tak lama kemudian aku kembali lagi ke tempat semula. Seseorang baru saja beranjak dari taman, namun ia berlalu begitu cepat. Hanya punggungnnya yang tampak dari kejauhan lalu perlahan menghilang oleh silaunya matahari pagi. Aku hampir lupa dengan buku yang aku simpan tadi tepat di sebelah kanan kucing. Aku lalu mengambilnya lalu pergi dan tak henti-hentinya aku bertanya-tanya tentang sosok yang sering ke taman itu juga. Mungkinkah ia adalah seseorang yang aku kenal?
               Entah kenapa aku selalu berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Meskipun sebenarnya rasa penasaran ku sudah membludak. Aku pkir itu bukanlah sesuatu yang begitu berarti untuk dipikirkan. Dikarenakan persoalan rutinitas masih banyak yang mengantri di belakang. Jadwal harian ku mulai memanggil. Jam sekian aku ke kampus untuk melakukan aktivitas kampus termasuk diantaranya kajian dan ngumpul bersama teman di kanting.
             Sesampai di rumah, aku langsung siap-siap ke kampus. Aku diantar oleh pak Sugiatno. Aku tdak pernah memanggilnya pak supir karena aku menghargainya sebagai subjek sama sepertiku yang butuh penghargaan dengan serendah-rendahnya pekerjaan. Karena pada hakikatnya bukan pekerjaannya yang rendah namun pikirannya orang-orang yang rendah. Itu pandangan ku ketika melihat seseorang yang memandang remeh orang lain dari segi pekerjaan.
              Demikianlah jadwal harian ku yang sudah tidak bisa diganggu gugat. Meskipun kadang-kadang ada jadwal yang molor, aku berusaha agar diisi dengan berkunjung ke perpustakaan pribadiku. Karena sendiri itu sepi, maka aku mengajak beberapa teman komunitas literasi untuk berkunjung ke perpustakaan ku. Kemudian berdiskusi mengenai hal yang perlu didiskusikan.
              “Sebuah kritik harusnya berkontribusi,” kata Rico. Ia berpendapat bahwa terkadang manusia tidak tahu membedakan antara mengkritik dengan mencelah. Ada yang kritiknya luar biasa bagus namun tidak berkontribusi atau tidak memberikan solusi. Tidak jarang pula kita mendapati yang dikritik adalah orang yang tahu apa-apa dan yang dikritik justru yang tahu apa-apa. Sehingga yang dikritik menjadi tidak lagi dipercaya dan yang mengkritik justru merasa tinggi hati. Merasa sudah mampu memberikan pendapatnya meskipun ia sendiri tidak menguasai sesuatu yang dikritik itu sendiri. Berhubung dosen kami tidak masuk di jam itu, akhirnya diskusi kami berlangsung cukup lama. Kekososngan yang seperti itulah yang aku seringkali mengisinya dengan banyak-banyak berdiskusi dengan teman-temanku. Sekalipun banyak juga jenis kepala dalam diskusi sehingga menimbulkan berbagai bentuk pergulatan ide-ide pemikiran yang terkonsep dalam pikiran masing-masing. Justru perbedaan pendapat itu perlu agar tercipta yang namanya pertukaran pikiran (sharing). Hal itu bukanlah sebuah hal yang membuat kita tepecah. Aku bahkan pernah mendapat sebuah ungkapan bahwa “itulah tugasnya filsafat, maka dari itu, sedikit banyaknya kita perlu belajar filsafat, karena tujuan filsafat adalah sebagai clarifying konsep.” Perdebatan tidak akan berujung jika ternyata konsep yang ada dalam pikiran kita dengan orang lain berbeda sejak awal. Itulah tugasnya filsafat, mengklarifikasi konsep agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam berargumentasi.
             Jika kritik itu perlu, maka kritik itu harus membangun. Kami pun bersepakat bahwa seseorang harus menguasai dengan baik terkait hal yang ingin dikritik barulah ia mengkritik. Bukan malah sebaliknya, tidak paham apa-apa malah mengkritik. Sehingga jatuhnya jadi asal bunyi. Mengkritik tapi ia sendiri tidak tahu tentang apa yang ia kritik.
              Ruang kuliah telah menunggu. Aku masuk kuliah lagi. Kali ini aku tidak lagi terlambat. Aku telah benar-benar merealisasikan jadwalku yang dulunya hanya sekadar pajangan di dinding kamar. Kini jadwal harian termasuk jadwal kuliah aku bawa kemana-mana. Sedikit datar namun itulah aku. Berbeda dengan mereka yang terbiasa mengalokasikan waktunya khusus untuk sang kekasih mungkin.
            “Harus berapa lama lagi gelar jomblo ini melekat pada diriku ya Allah?” aku berkata demikian di depan gedung perkuliahan sambil menatap sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan menuju kantin kampus. Tidak juga sering, namun kadang pikiran demikian datang menghampiri seolah juga ingin seperti mereka. Namun aku memilih sendiri. Oleh karenanya teman ku selalu menghiburku dengan “kamu bukan jomblo Rania, tapi kamu single,” “Jika itu adalah cinta sejati, maka ia akan menemukan jalannya.” Teman ku yang satu ini memang kaya akan kata-kata puitis yang sampai-sampai membuatku meleleh sendiri dengan kata-katanya.
              Adapun ketika aku menyukai seseorang, aku memilih untuk menanggungnya sendiri. Kata Rumi “karena dalam diam aku tak menemukan penolakan.” Sebuah ungkapan yang mungkin akan menjadi penenang bagi para penggemar rahasia yang takut tertolak. Aku terkadang berpesan pada diriku sendiri, bahwa
          “sendiri itu bahagia, tidak ada beban pikiran, memiliki sebuah hubungan di luar nikah justru mengundang zina, ditambah lagi membuat konsentrasi menjadi terganggu, membuang-buang waktu dengan mengorbangkan ini dan itu apalagi hanya bermodalkan fisik dan semacamnya padahal belum tentu juga jodoh.”
           Buku selalu siap menemani. Pikirku buku ketika selingkuh tidak akan berefek sakit hati. Bagaimana tidak, kadang aku sendiri yang membuat ia selingkuh, bahkan rela membuat ia menginap beberapa malam di kediaman teman ku. Ia diculik pun tidak apa-apa. Asalkan ia dibaca dan direfleksikan di kehidupan nyata. Barangkali itulah yang akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi ku. Ternyata aku tidak sendiri.
                       



_Fiction_


SELAMAT HARI BUKU 





Pemimpin, Islam dan Pluralisme Nusantara

Indonesia adalah suatu negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Secara kuantitatif, negara ini menang dalam hal penduduk beragama islam. Mengalahkan agama-agama besar yang sudah berabad-abad lamanya dianut oleh bangsa Indonesia yaitu Hindu dan Budha. Oleh karena bangsa Indonesia adalah mayoritas beragama Islam, maka seringkali ia disebut sebagai Indonesia Islam atau negara Islam. Penyebaran islam pun berawal dari adanya aktivitas perdagangan antarnegara. Dakwah-dakwah yang disertakan pada aktivitas perdagangan lintas benua ini pun berlangsung sejak abad 15/16. Penyebarluasan islam sangatlah pesat hingga ke berbagai pulau yang ada di negara yang disebut juga negara maritim. Islam pun sejak awal penyebarannya dilakukan melalui pendekatan budaya. Maka dari itu, tidak heran jika budaya-budaya warisan agama terdahulu seperti animisme dan dinamisme masih terbawa sampai hari ini. Pendekatan budaya ini pun dilakukan agar islam diterima secara damai. Bukan sebagai agama yang memaksa terhadap masyarakat agar menjadi penganutnya. Islam berkembang tanpa menghilangkan kultur yang sudah sejak lama menjadi kebiasaan mereka.

Terlepas dari itu, Indonesia yang berlandaskan ideologi pancasila sudah semestinya beriringan dengan islam itu sendiri dalam mewujudkan sila-silanya. Pancasila yang dicetuskan oleh Presiden pertama kita Ir. Soekarno, ada dua sila yang sampai hari ini kita masih membohonginya. Tidak jarang orang yang mengabaikan sila kedua dan kelima pancasila. Kemanusiaan yang dikatakan adil dan beradab sampai hari ini masih menjadi kata kiasan yang imajinatif. Keadilan sosial yang ditujukan bagi seluruh rakyat Indonesia, pada kenyataannya masih memilah yang mana patut diadili dan yang mana tidak mesti diadili. Keadilan yang didengung-dengungkan seolah dibuat hanya sebatas pemanis atau penghibur di telinga masyarakat semata. Alangkah tidak eloknya ketika apa yang diperjuangangkan oleh para pahlawan pendiri bangsa ini kita sia-siakan bahkan terabaikan. Peranan pemuda pasca kemerdekaan semakin menciut jika diperhatikan sampai hari ini. Padahal kita tinggal mengisi kemerdekaan dengan bertarung tanpa menumpahkan darah seperti pada era kolonialisme dahulu. Kita hanya perlu memberikan dedikasi kita terhadap negara dengan berlaku adil mulai dari hal-hal terkecil sekalipun.

Sekilas kita melirik sejarah perjuangan para pahlawan pendiri bangsa Indonesia, mulai dari pencetusan nama bangsa Indonesia yang semula adalah atas nama Hindia Belanda yang menandakan sebagai negara jajahan Belanda. Ternyata kebanyakan diantara mereka adalah jebolan pendidikan Belanda pada saat itu. Mereka tidak lain diberi kesempatan mengenyam pendidikan hanya untuk menghasilkan tenaga-tenaga pegawai pribumi rendadan. Akan tetapi, melalui pendidikan tersebut justru timbul ambisi untuk memerdekakan bangsa Indonesia. Kemudian pencetusan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia dibuat agar kita tidak lagi memakai bahasa asing bahasa Belanda pada saat itu. Hal ini membuktikan bahwa menurut Muh. Yamin, tidaklah dikatakan merdeka jika dari segi bahasa pun kita masih dikuasai oleh bangsa asing. Jika saja kita memakai bahasa Belanda sampai hari ini, tidak menutup kemungkinan persepsi negara lain akan memandang bahwa kita adalah bagian dari mereka sehingga mulai dari kultur akan secara otomatis mengikut pada budaya negara Eropa tersebut. Mereka begitu gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan. Lebih menariknya mereka saling bahu membahu mendirikan bangsa ini di dalam banyaknya perbedaan diantara mereka seperti halnya perbedaan suku, agama, bahasa dan sebagainya. Namun hanya ada satu tujuan mulia yang ingin mereka capai yaitu kemerdekaan Indonesia.

Berbagai organisasi lahir dalam rangka memperjuangkan bangsa Indonesia. Termasuk diantaranya organisasi islam dan organisasi pertama di Indonesia adalah Budi Utomo, kemudian organisasi lainnya yang lahir setelahnya seperti SI, PI, Muhammadiyah, Al-Irsyad dan masih banyak lagi. Sebuah pemandangan yang begitu diharapkan di era sekarang ini. Dimana keberagaman bukanlah sebuah penghalang atau penyebab timbulnya perselisihan. Keadilan bukan hanya berbicara seputar di mana keadilannya pemerintah. Tetapi berawal dari hal-hal kecil, kita mesti memperbaikinya. Belum berangkat ke ranah perbedaan agama. Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim sendiri terdiri dari berbagai golongan atau organisasi masyarakat khususnya di bidang sosio kultural keagamaan. Hal ini selalu menjadi perbincangan yang cukup tidak ada habisnya sampai pada hari ini, lantaran klaim-klaim yang merasa paling benar masih saja terjadi di kalangan masyarakat muslim yang notabenenya adalah sesama umat muslim. Para penguasa pun demikian banyaknya yang mengaku beragama namun mereka telah menjual ayat-ayat Al-Qur'an sebagai pembenaran dari sistem kepemimpinan yang dilakukannya. Banyak diantara mereka yang mengaku bergama namun tidak cukup memiliki jiwa egalitarian.

Bangsa ini tetap akan jalan di tempat jika saja perbedaan selalu dibesar-besarkan. Tidak ada perbedaan yang cukup kontras jika saja jiwa toleran ada pada masing-masing individu. Karena sejatinya perubahan dimulai dari hal-hal kecil, maka dari itu cita-cita untuk melakukan perubahan justru haruslah dimulai dari diri masing-masing. Adapun ketika jiwa toleran sudah tertanam dalam diri setiap individu, jiwa egalitarian pun turut menunjang pemikiran setiap individu untuk menghargai sebuah perbedaan yang ada. Orang-orang yang memiliki jiwa egalitarian adalah orang-orang yang tidak memandang latar belakang orang lain. Baik dari segi kedudukan atau jabatan, keturunan, suku dan sebagainya. Dengan demikian, hukum akan dapat ditegakkan tanpa memandang status sosial, jabatan, dan segala sesuatu yang bersifat materi lainnya. Ketika kita melihat dari sisi keagamaan, dalam islam juga mengajarkan kita agar menanamkan perilaku terpuji yaitu toleransi.

Sadar tidak sadar, segala yang diperjuangkan orang-orang sampai hari ini tidak lain hanyalah materi. Orang-orang seperti ini biasa juga disebut orang yang materialistis. Di manapun dan kapan pun sebuah peristiwa terjadi, ketika telah diproses di rana hukum, kebanyakan diantara mereka bukan bertarung persoalan siapa benar siapa salah secara hukum. Tetapi mereka bertarung persoalan siapa menang siapa kalah. Dengan mengandalkan sekutu ini dan sekutu itu, orang-orang bisa menjadi salah di hadapan publik dikarenakan pemenangnya adalah mereka-mereka yang mengandalkan materi. Tidak jarang kita menjumpai kisah-kisah sedramatis ini. Siapapun yang bermateri bisa saja menang meskipun sebenarnya ia salah secara hukum dan siapapun yang tidak punya sekutu atau materi apapun bisa saja kalah karena ia telah disalahkan secara terpaksa oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan tidak profesional dengan jabatan yang diembannya. Hal ini terjadi karena tidak adanya ketegasan dalam diri masing-masing untuk melawan egoisme yang merenggut jiwanya. Dimana mereka adalah keluarga, disitulah mereka akan bermain dengan jabatannya. Dimana mereka mempunyai materi, disitulah mereka akan melakukan tindakan sogok menyogok. Dimana mereka mempunyai kekuasaan, lantas ketika orang yang berwenang di rana hukum ini tidak melaksanakan keinginan orang yang bersalah ini, maka jabatannya akan terancam. Mau tidak mau, karena orang ini dalam hidupnya tujuannya hanya sebatas materi sehingga ia harus menelan liur untuk mengambil tindakan tidak adil terhadap pihak-pihak yang tidak mampu lagi berkutip kecuali hanya bersandar pada kebenaran yang ada. Orang-orang berkuasa ini tidak lain hanya pantas disebut boneka yang bisa diremot sana sini kapan dan di mana pun berada. Saya katakan ini terjadi karena sebagian besar diantara kita masih memandang latar belakang seseorang baik status sosial, keturunan, jabatan dan lainnya atau tidak adanya penanaman jiwa egalitarian dalam diri masing-masing. Sehingga perbedaan di tengah-tengah kita seolah menjadi faktor perselisihan antara golongan satu dengan golongan lainnya. Padahal perselisihan itu justru terjadi karena tidak adanya perasaan saling menghargai satu sama lain.

Terdapat sebuah kisah yang cukup bisa kita mengambil pelajaran dari seorang mantan presiden keempat Indonesia yaitu Pak Abdurrahman Wahid atau yang kerap dipanggil Gus Dur. Seorang tokoh pluralisme yang memiliki prinsip berpegang teguh pada keadilan dan keharusan adanya kesadaran melakukan perubahan-perubahan. Beliau mengajarkan kita untuk tetap bersandar pada keadilan apapun resikonya. Ketika beliau resmi menjadi presiden terpilih, beberapa kawannya justru menjauh darinya agar tidak terjadi yang namanya bias. Salah satu diantaranya adalah Gus Mus. Beliau justru mengucapkan bela sungkawa atas terpilihnya Gus Dur sebagai presiden. Beberapa kawannya ini termasuk budayawan W.S. Rendra turut menjauh justru sebagai bentuk dukungan mereka agar tidak terjadi bias setelahnya. Beliau karena berpegang pada prinsipnya yaitu keadilan membuatnya tidak pernah melakukan kompromi dalam situasi bagaimanapun. Termasuk ketika ia hendak dilengserkan jadi jabatannya. Dikarenakan beberapa faktor yang sebenarnya hanyalah bentuk kesalah pahaman. Beberapa orang menyangka beliau hanya membela kaum minoritas. Tetapi pada hakikatnya demikianlah cara beliau mendemokrasikan Islam sebagai rahmatallil 'alamin. Dengan cara ia mengayomi kaum-kaum minoritas tanpa melihat perbedaan agama khususnya, ia telah menjadikan politik sebagai jalan untuk mewujudkan istilah "kemanusiaan" sesuai dengan sila-sila pancasila yang kemudian kerap disebut olehnya sebagai "politik kemanusiaan." Posisinya sebagai presiden saat itu bukanlah hal yang sulit bagi beliau untuk mempertahankannya. Tetapi karena ia tidak mau melakukan kompromi yang pada saat itu beberapa pihak telah memberikan suatu tawaran untuk menyapu bersih parlemen agar ia tetap pada jabatannya, akhirnya ia lebih memilih mundur dari jabatannya. Sebab menurut beliau, perpecahan akan terjadi ketika ia tetap pada posisinya sebagai presiden. Dan, ternyata keadilannya terbukti pada saat itu. Yaitu ketika pasca tawaran itu datang kepadanya, ia justru memerintahkan agar orang-orang tersebut ditangkap. Kemudian bukti keadilan dan humanisnya seorang Gus Dur juga terlihat ketika ia menjadikan agama Konghucu sebagai agama resmi diakui oleh negara pada tahun 2000 silam. Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya membela kaum mayoritas dalam hal ini islam, tetapi ia juga mengayomi para kaum minoritas dalam hal ini agama lain yang dianut oleh sebagian kecil rakyat Indonesia. Selain itu, beliau juga merupakan pemimpin yang selalu menggunakan pendekatan-pendekatan humanis dalam menyelesaikan sebuah persoalan terkait perbedaan-perbedaan diantara masyarakatnya seperti suku, agama, ras dan sebagainya. Dia begitu paham dengan bangsa ini yang serba serbi (plural).

Baginya islam itu adalah sebuah jalan damai. Tidak boleh ada perpecahan di dalamnya. Dari sini kita melihat betapa tingginya jiwa toleran yang ada pada sosok pemimpin yang satu ini. Hal ini membuat ia dibenci oleh kalangan mayoritas dan disukai oleh kalangan minoritas pada saat itu. Akan tetapi, saat ini banyak yang meneladani jiwa pemimpin beliau baik dari segi Islam Nusantaranya maupun berbagai jenis isu-isu lainnya terkait dengan demokrasi. Ia menampilkan islam di Nusantara yang mayoritas bukan sebagai jalan untuk mengkerdilkan kaum-kaum tertindas (minoritas). Ia benar-benar menunjukkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Sedikit mengutip potongan puisi salah seorang anak perempuannya di salah satu acara TV yaitu Mata Najwa.

"Bagaimana mungkin engkau memimpin dengan kondisi buta, sedangkan kami saja yang memiliki penglihatan yang normal masih seringkali tidak tahu membedakan antara benar dan salah."

Tetapi kata putrinya, justru dia yang buta lebih terbuka mata batinnya. Sosok yang mengajarkan kita bagaimana demokrasi harus ditegakkan, bagaimana jiwa toleran yang harus ditanamkan, dan bagaimana mewujudkan kemanusiaan yang berpatokan pada prinsip keadilan. Perbedaan yang kini berhasil membuat sekat diantara berbagai golongan. Perbedaan yang seolah menjadi alasan terpecahnya atau terjadinya berbagai tindak kekerasan, dan alasan untuk tidak lagi berjalan beriringan. Perbedaan kini telah menjadi tombak untuk menebar kebencian yang berujung perpecahan. Oleh sebab itu, sosok pemimpin seperti Gus Dur adalah pemimpin yang dapat dicontoh oleh pemimpin-pemimpin masa depan. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lainnya. Seorang pemimpin yang jujur, demokratis, toleran dan berjiwa humanis. Demikian cara-cara Gus Dur dalam memimpin bangsa yang masih dan akan tetap relevan dengan perkembangan zaman di masa yang akan datang.

Menyingkap Teori Barat yang Mengajarkan Tauhid


http://www.yulitaadriyanti12345.com, di antara tag <head> dan </head>

SALIN KODE
Tidak tahu apa yang harus dilakukan? Kunjungi Pusat Bantuan kami.
Sembunyikan Kode

Bismillahirrahmanirrahim.

Bukti Keterbatasan Manusia

      Terdapat ungkapan yang mengatakan "kenali dirimu, maka kau akan mengenal Tuhanmu". Tiada petunjuk yang akan sampai kepada manusia ketika ia tidak mencarinya. Dari ungkapan tersebut seharusnya kita terdorong untuk mencari tahu segala yang berkaitan dengan diri kita. Dan, tidak ada pula landasan yang terbaik diantara yang terbaik untuk mencari petunjuk tersebut yaitu Al-Qur'anul qarim. Mencari kebenaran pun pada dasarnya kita tidak harus menjadi sarjana filosofi dan agama terlebih dahulu. Mencari kebenaran adalah hal yang tidak bisa dibatasi untuk manusia melakukannya terus menerus hingga ia dapat. Bahkan beberapa teori barat yang mengajarkan kita sendiri tentang adanya Tuhan akan terjawab oleh Al-qur'an. Beberapa teori tersebut adalah sebagai berikut:

1. Teori Relatifitas (Einstein), teori ini menjelaskan bahwa dunia (bumi) terbatas oleh   empat dimensi yaitu ruang, waktu, daya, dan guna. Teori ini menjelaskan bahwa alam raya terbatas. Sehingga apabila terdapat pertanyaan seperti: "di mana Tuhanmu?", maka jawabannya adalah karena alam raya terbatas oleh dimensi ruang maka kita tidak bisa melihat Tuhan itu sendiri. Yang mana Tuhan itu adalah tidak terbatas. Kemudian pertanyaan berikutnya "kapan?",maka itu terbatas oleh dimensi waktu. pertanyaan "bagaimana?", maka itu terbatas dimensi wujud dan daya. Maka dari itu alam raya yang terbatas dan Tuhan (Allah) itu tak terbatas.
Teori pun terjawab dalam surah yang pendek, padat dan mengandung bobot tauhid yang luar biasa yaitu Qs. Al-ikhlas yang artinya "(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan dia". Ayat ini telah menjelaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, terlebih lagi tidak ada yg bisa menyetrainya atau menyerupainya. Sehingga manakala kita ingin melihat Tuhan itu mustahil. Bahkan sekalipun kita mempertuhankan yang nampak, maka ia bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Sebab segala sesuatu yang terdapat di alam raya adalah terbatas sedangkan Allah itu tak terbatas. Dijelaskan pula dalam Qs. Ar-rahman bahwa semuanya adalah fana kecuali Allah pengatur alam semesta yang baqaa (kekal). 

      Selain itu, di dalam Al-qur'an juga telah diabadikan kisah Fir'aun manakala ia berkata kepada Nabi Musa bahwa ia tidak akan menyembah Tuhannya Musa sampai ia melihat dengan mata kepalanya sendiri (Qs. Al-baqarah: 55). Fir'aun mengatakan demikian, Padahal mata itu terbatas. Dalam ilmu epistemologi pun menjelaskan bahwa mata adalah instrumen yang selalu melakukan kesalahan. Sehingga kita tidak perlu menyombongkan segala sesuatu yang terlihat oleh mata. Karena sesuatu yang diraih dengan instrumen yang terbatas maka apa yang diraih itupun adalah bersifat terbatas. Berarti manusia itu terbatas, alam itu terbatas, dan hanya Allah yang mutlak tak terbatas.

2. Teori Non Otomatics, menjelaskan bahwa segala yang terjadi tidak serta merta atau bukanlah kebetulan. Dengan kata lain tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa sebab. Bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara otomatis. Dimana akibat pasti ada sebab. Teori ini pula yang menjelaskan adanya pencipta alam raya. Tidak mungkin alam raya terjadi begitu saja tanpa ada yang menyebabkan adanya alam raya, dalam hal ini pencipta "who is the creator"?

      Sedikit mengungkit sejarah Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Qs. Al-an'am: 75-79 tentang Ibrahim yang mencari tuhan. Ketika ia melihat bintang dan mengatakan "inilah Tuhanku", akan tetapi bintang itu menghilang ketika menjelang subuh. Sehingga Nabi Ibrahim pun berkata "aku tidak suka tuhan yang terbatas". Kemudian ketika melihat bulan ia kembali mengatakan hal yang sama. Akan tetapi sama halnya dengan bintang, bulan menghilang ketika menjelang subuh. Ketika melihat matahari, ia mengatakan hal yang sama, "yang ini lebih besar, barang kali inilah tuhanku". Akan tetapi matahari menghilang menjelang malam. Di sinilah Ibrahim pun mengatakan kepada Allah "seandainya engkau ya Allah tidak memberi kami petunjuk, niscaya kami akan menjadi kaum yang sesat". Kata Allah dalam surah iftitah "wajahkan wajahmu kepadaku wahai Ibrahim, akulah (Allah) pencipta langit dan bumi". Maka ketika kita meyakini bahwa alam raya tidak terjadi begitu saja, berarti sudah semestinya meyakini bahwa Allah adalah penciptanya. Akan tetapi, sampai di sini saya yakin, bahwa pertanyaan akan kembali muncul tentang siapa dan di mana Tuhan itu berada. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki manusia. Manusia tidak akan mampu mengindrai yang namanya Tuhan (Allah).

      Demikianlah pertanyaan-pertanyaan nakal yang dilontarkan oleh kaum penganut paham materialisme, sekulerisme, hedonisme dan sebagainya. Yang hanya percaya pada sesuatu yang nampak atau bersifat material. Seorang professor mengatakan "semakin maju zaman, semakin tinggi peradaban dan kebudayaan manusia, semakin luas pula otoritas intelektual manusia". Lambat laun tapi pasti, manusia kemudian berlomba-lomba meninggalkan agama. Hal ini dikarenakan agama menurut anggapan mereka tidak lagi dapat menjawab kebutuhan ummat manusia dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.

      Teori non otomatics inilah yang justru telah menjawab atau menggugurkan teori atheis. Yang katanya tak bertuhan. Namun pada hakikatnya ia bertuhan yaitu mempertuhankan akalnya, yang sebenarnya akalnya pun tidak sanggup dijangkau oleh matanya yang terbatas.

3. Teori The Most, yaitu paling, ter-, dan sebagainya. Sebagai contoh: mulia, paling mulia, termulia. Teori ini menjelaskan bahwa pasti ada kebenaran objek diantara kebenaran subjektif. Pasti ada agama diantara gama-gama.

      Teori ini terjawab dalam surah yang pendek yaitu surah Al-ikhlas yang artinya "katakanlah (Muhammad), dialah (Allah) yang Maha Esa. Kata "ahad" di sini tidak hanya bermakna satu karena satu itu berjumlah, berkali, berbagi, berkurang. Akan tetapi, kata "ahad" bermakna esa (tunggal).
 
      Kemudian mengenai kebenaran, Allah pun menjawab dalam surah Al-fatah: 28, menjelaskan bahwa Dialah yang mengutus Rasulullah SAW dengan hidayah dan agama yang benar. Agar dimenangkan dan ditampakkannya kebenarannya di hadapan semua agama dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.

      Seorang Prof. Lord dari bangsa Rusia, ia memcari kebenaran melalui dua belas agama. Dia memasuki agama satu ke agama lainnya. Akan tetapi ia sangat membenci agama islam sehingga ia menempatkan agama islam sebagai agama yang terakhir diteliti olehnya. Namun, justru karena kebenciannyalah yang kemudian membuat ia jatuh cinta terhadap islam dan ia pun memeluk agama islam. Mungkin karena itulah adanya ungkapan yang mengatakan "janganlah engkau membenci sesuatu dengan amat sangat benci, boleh jadi suatu saat engkau akan cinta" atau "janganlah engkau mencintai sesuatu dengan amat sangat cinta, boleh jadi suatu saat engkau akan benci."

4. Teori Super Nature Power, yaitu kekuatan metafisik yang luar biasa. Suatu kekuatan yang tidak diketahui. Teori ini mengajarkan adanya suatu kekuatan yang tidak mampu dijangkau oleh manusia. Sebagai contoh, ruh yang sampai sekarang tidak ada satu professor pun yang mampu melihat bagaimana bentuk dan warnanya. Ruh inilah yang menghidupkan jasad. Namun tidak ada yang mampu mencapai apalagi meneliti ruh itu sendiri.

     Allah menjawab teori ini dalam Qs. Al-isra: 85. Pada ayat ini terdapat kata "Qalila" yang menerangkan tentang ilmu yang dimiliki oleh manusia. Diabadaikan pula dalam Qs. Al-isra: 85 tersebut, tentang kisah seseorang yang melontarkan pertanyaan kepada Imam Ali "apakah itu qalila?". Imam Ali tidak langsung menjawab "sedikit." Akan tetapi, ia menjawab dengan analogi semisal manusia mencelupkan tangan ke lautan maka tetesan-tesan yang jatuh itulah ilmu yang dimiliki manusia. Tetesan itulah ilmu manusia sedangkan lautan adalah ilmu Al-qur'anul qarim. Sehingga dapat dikatakan bahwa secerdas-cerdasnya manusia, ilmunya hanyalah sedikit. Kalaupun kita melakukan perbandingan maka itu hanyalah perbandingan yang bodoh dan naif.

      Berkenaan dengan ruh. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa warna dan bentuknya sebagaimana kita tidak akan pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana kita meninggal.

      Apapun pertanyaan yang sampai hari ini terlontarkan dan hinggap di kepala sampai hari ini dan berkenaan tentang Tuhan, tidak ada sumber yang terbaik diantara yang terbaik selain Al-qur'an. Prof. Lord yang mencari kebenaran pun akhirnya menjadi mu'allaf. Begitu pula kisah Jamilah Kolocotronis yang menjadi mu'allaf. Ia yang awalnya bercita-cita menjadi seorang pendeta dan berusaha membuktikan betapa tersesatnya orang Islam. Ia pun mendapati Al-qur'an di sebuah perpustakaan. Akan tetapi ia tidak lain hanyalah ingin mencari kesalahan Al-qur'an yang mana di dalamnya terdapat bebrapa kalimat yang kontradiksi dan ia tidak menemukan kesalahan sedikitpun setelahnya. Ia justru mendapat hidayah lewat penelitiannya tersebut. Ia yang begitu meyakini dirinya mampu mengkaji Al-qur'an dengan mudah saja dikarenakan statusnya sebagai seorang sarjana filosofi dan agama. Akhirnya ia menjadi mu'allaf setelah ia melakukan pelatihan pendeta. Dan, di sinilah ia menemukan sendiri kesalahan dari agamanya sendiri. Terdapat perjanjian di dalamnya bahwa mereka para pemdeta tidak boleh membeberkan bahwa Al-kitab yang mereka pakai bukan kitab suci. Dia menjadi semakin yakin untuk memeluk agama islam setelah kejadian malam itu.

      Prof. Lord mengatakan "jika kamu berpikir sungguh-sungguh, maka ilmumu akan memaksamu untuk mencari Tuhan." Paling tidak kita dapat mengambil pelajaran dari dua kisah tersebut. Dari kisah tersebut mengajarkan kita bahwa tidak ada yang salah jika kita ingin mencari suatu kebenaran. Kebenaran yang mana kita bisa meraihnya dengan usaha yang tidak biasa-biasa saja. Tidak ada kata lelah dalam mencari kebenaran. Bersiaplah kita menghadapi kekalahan ketika lahir Prof. Lord lainnya yang melakukan penelitian lantas memeluk agama islam yang secara tidak langsung ia telah mendalami islam itu sendiri lewat penelitiannya, . Sementara kita masih masih berleha-leha dengan status agama keturunan. Karena agama orang tua islam maka kita juga beragama islam dan tidak pernah mendalami, mempelajari agama islam. Bahkan menyentuh Al-qur'an pun jarang, apalagi mengamalkannya. Bukankah mengamalkan itu lahir dari paham? bukankah mengamalkan itu lahir dari penghayatan? bukankah penghayatan itu lahir dari paham? bukankah paham itu lahir dari membaca? dan bukankah pula membaca itu lahir dari menyentuh?

      Oleh karena itu, marilah kita membaca, memahami, mempelajari Al-qur'an dan mengamalkannya. Satu bencana bagi orang bodoh karena kebodohannya. Dan, tujuh bencana bagi orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya. Karena kata Allah celakalah apabila pengetahuan itu sampai kepada mereka namun tidak mengamalkannya.

~Fastabiqul Khaerat~

   

     

     

Konsistensi dan Kebijaksanaan

Kode iklan asinkron:
Konsisten dan Bijak dalam Bersikap
      Terdapat banyak hal yang kita lewatkan dan mengabaikan hal-hal sepele namun cukup mengolah cara kerja otak kita. Berapa banyak peristiwa yang terjadi di sekeliling kita, namun tidak sempat mengambil hikmah dari peristiwa sekecil apapun itu.
      Sebuah anekdot yang memiliki hikmah dalam memahami hakikat dari hal sederhana sekalipun tidaklah mudah. Oleh karenanya kita mesti belajar fokus terhadap hal-hal sederhana yang dapat memberikan dapmpak postitif bagi perkembangan otak.
      Sebuah kisah berikut dari salah seorang sufi, filsuf, dan pendakwah Islam terkenal berasal dari Dinasti Seljuk (Turki) yaitu Nasruddin Hodja. Kisah yang disertai dengan humor di dalamnya. Dan, mampu memberikan pelajaran bagi para pembaca dalam mengenal tentang diri (knowing self). Jalan seseorang atau cara seseorang mengenal diri sering juga disebut tasawuf atau jalan yang ditempuh oleh seorang sufi. Sufi sendiri adalah sebutan untuk ahli tasawuf.
     
      Pada suatu masa, seseorang ingin belajar tentang kebijaksanaan dari Nasruddin. Nasruddin pun bersedia mengajarinya dengan catatan kebijaksanaan hanya mampu dipelajari dengan praktik.
      Seseorang tersebut pun datang pada malam itu. Ia mendapati Nasruddin sedang meniup-niup api kecil yang ada di hadapannya. Orang tersebut bertanya "mengapa engkau meniup api tersebut?"
      "Agar lebih panas dan apinya menjadi lebih besar," jawab Nasruddin. Kemudian setelah api besar, Nasruddin memasak sup. Setelah sup masak, ia meniup-niup sup tersebut. Seseorang ini kembali bertanya "mengapa kau meniup sup itu?"
   
       "Agar lebih dingin dan enak dimakan," jawab Nasruddin. Seseorang tersebut kemudian keliru dan menganggap Nasruddin tidak konsisten dengan pengetahuannya. Oleh karenanya orang ini merasa bahwa ia tidak ingin belajar dari Nasruddin.
       Perihal konsisten menurut si darwis adalah tindakan dengan menggunakan metode yang sama pada objek yang berbeda sehingga menghasilkan hasil yang sama pula. Dua objek yang berbeda namun memiliki suhu yang sama dan menggunakan metode yang sama yaitu dengan tiupan. Akan tetapi, menghasilkan output yang berbeda. Sehingga menurut Nasruddin, metode boleh sama namun tidak mesti hasilnya sama pula.
      Ada dua hal yang diajarkan oleh Nasruddin; pertama, untuk mencapai sesuatu, ada banyak jalan untuk mencapainya. Untuk mencapai sesuatu, kita dapat menggunakan metode yang berbeda terhadap objek yang sama dan dengan hasil yang sama pula. Misalnya, untuk mencapai angka dua, satu ditambah satu bukan satu-satunya jalan. Artinya setiap orang dapat menempuh jalan yang berbeda menuju Ilahi. Kemudian yang kedua, ialah meskipun kita berada di jalan yang sama atau menggunakan metode yang sama terhadap objek yang berbeda, tetapi hasilnya tidak mesti sama. Untuk itu, kita mesti bijak dalam bersikap. Bijak mempelajari sesuatu bahwa tidak semua ilmu itu buruk dan tidak semua ilmu itu baik. Konsusten dan bijak berarti bisa menempatkan diri sesuai porsi, situasi dan kondisi.
      Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (Daring), konsisten memiliki makna tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; selaras; sesuai (perkataan dan perbuatan). Jadi, kosisten bukan berarti tetap sama untuk semua persoalan. Akan tetapi dengan mengetahui kisah tersebut di atas, maka makna yang sesuai dengan kata konsisten adalah kata selaras dan sesuai.
      Jika saja konsistensi dimaknai dengan ucapan yang sama, maka akan sangat aneh pada masalah berikut.
      Seorang teman lama tidak bertemu bertanya pada Nasruddin, "berapa umurmu?"
       "Empat Puluh," jawab Nasruddin. Sedangkan pada pertemuan beberapa tahun lalu ia juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang sama dan oleh orang yang sama pula. Temannya menjadi heran. Ia pun mengatakan "Anda mengatakan hal yang sama beberapa tahun yang lalu." Nasruddin kemudian menjawab "iya, saya konsisten dengan perkataan saya".
      Dari kisah tersebut, Nasruddin mengajarkan pada temannya. Bahwa konsistensi tidak dapat dipandang sebagai sebuah ucapan semata yang harus sama dari waktu ke waktu. Konsisten adalah sikap yang sesuai, selaras, ajeg dan sesuai dengan keadaan. Konsisten akan tetap sama (tidak berubah-ubah) terhadap objek yang berbeda lebih tepatnya berlaku pada hukum kecuali ada pengkhususan dsri dalil setelahnya.
    
      Begitu pula konsisten dalam pembelajaran. Maksud dari konsisten dalam belajar bukan berarti mempelajari hal yang sama dari waktu ke waktu bukan? Konsisten dalam dalam hal ini berarti belajar terusenerus atau istiqamah dan tidak pernah bosan untuk menempah kemampuan diri. Dalam proses belajar mengajar, guru juga tidak mesti menggunakan satu metode untuk 30 peserta didik. Begitu pula dengan 30 peserta didik yang diajar dengan metode yang sama, akan menghasilkan output yang berbeda.
   

Manusia Sebagai Makhluk Berprasangka

    Manusia Sebagai Makhluk Berprasangka
       
Pernahkah kalian bertanya-tanya mengapa surga diciptakan brtingkat-tingkat? Jawabannya sangat sederhana, karena manusia tidak diciptakan sama. Allah telah menciptakan manusia beraneka rupa dan sifatnya masing-masing. Ada yang datang tepat waktu, ada pula yang datang terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali. Demikianlah manusia diciptakan berbeda-beda sehingga dapat mengenal dirinya. Melalui perbedaan tersebut, mengundang prasangka masing-masing. Prasangka ini pun menandakan manusia sebagai makhluk yang tergesa-gesa. Prasangka sering kali datang lebih cepat daripada yang kita pikirkan. Banyak orang belum bertanya, namun kita telah lebih dulu memberikan jawaban. Ada orang yang membeli kulkas namun kita yang kedinginan. Prasangka selalu membuat manusianya terpeleset dari kebenaran.
     
      Persepsi manusia pun sebenarnya adalah sebuah prasangka jika ia tidak memiliki landasan yang benar. Hal ini tidak terlepas dari tingkat pemahaman manusia yang berbeda-beda. Akan tetapi, yang perlu dipertanyakan adalah prasangka apa yang dilontarkan oleh manusia itu sendiri. Apakah prasangka baik atau buruk. Masing-masing prasangka ada dampak tersendirinya. Ketika terlalu berprasangka baik maka bersiaplah Anda untuk ditipu. Ketika berprasangka buruk maka bersiaplah untuk menerima doa-doa Anda sendiri. Adanya ungkapan bahwa setiap kata adalah doa dan apabila prasangka buruk ini disebar melalui gosip, desas desus dan sebagainya, maka semakin banyak pula yang mendoakan Anda. Allah berfirman "Manusia mendoakan kejahatan terhadap manusia lain sebagaimana ia mendoakan kebaikan terhadap orang tersebut." Seseorang sering kali ketika melihat yang buruk-buruk akan mendoakan yang buruk-buruk pula. Inilah yang kemudian membahayakan diri sendiri. Seseorang berprasangka buruk tanpa melakukan introspeksi terlebih dahaulu. Sebagai contoh, seorang perempuan yang tidak menutup aurat, disangka tidak melaksanakan syari'at. Lalu kemudian yang berprasangka adalah perempuan yang menutup aurat. Betapa terpelesetnya kita ketika pada kenyataannya adalah berbanding terbalik dengan apa yang dipersepsikan.
      
      Kemasan tidak selamanya sesuai dengan penyajian. Tidak jarang kita jumpai yang memodifikasi kemasan sebaik mungkin untuk menutup aib-aibnya. Hal ini terkait dengan berprasangka yang terlalu baik pada seseorang. Ketika berprasangka baik pada seseorang jenis tersebut, maka bersiaplah kita tertipu oleh kepercayaan yang kita berikan terhadapnya. Hal ini berarti ketika berprasangka terlalu baik terhadap seseorang maka terdapat unsur ketidak mungkinan ketika ia melakukan suatu perbuatan yang tidak menggambarkan karakter yang diperlihatkan. Sebagaimana karakter baiknya yang nampak, namun ada sebuah perilaku tidak terpuji yang bersembunyi di balik yang nampak. Jika saja hal ini terjadi pada makanan, maka ada tiga kemungkinan. Kemungkinan yang pertama: gambar penyajian yang tertera pada kemasan yang tidak sesuai dengan penyajian aslinya namun tidak mengundang mudarat, yang kedua: gambar penyajian pada kemasan tidak sesuai dengan penyajian aslinya namun tidak juga mengundang mudarat, yang ketiga: gambar penyajian pada kemasan sesuai dengan penyajian aslinya namun ternyata ada unsur babi di dalamnya. Kemungkinan ketiga inilah yang paling dihindarkan. Dengan kata lain "ekspektasi tidak sesuai dengan realita" . Dan, di sinilah peranan kita untuk selalu mencari kebenaran yang sebenar-benarnya benar.

      Berprasangka baik dan buruk sudah semestinya dipertimbangkan. Lantaran keduanya sama-sama mengecoh. Orang yang cerdas pasti tahu caranya menyesuaikan diri. Orang cerdas tidak henti-hentinya berintrospeksi diri. Mengamati segala hal yang ada di sekelilingnya. Membuat ia mampu membandingkan antara ia yang kemarin dengan ia pada hari ini. Ia mampu membandingkan yang mana patut atau tidak patut dicontoh. Ada sahabat yang menjelma jadi musuh dan ada musuh yang menjelma jadi sahabat. Seperti itulah kenyataan bermain. Sedangkan prasangka, berprasangka baik (husnuzhan) adalah jauh lebih baik ketimbang berprasangka buruk (su'uzhan) Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW bahwa memberi maaf jauh lebih baik daripada membalaskan dendam.

      Ada sesuatu hal yang patut kita berhati-hati yaitu prasangka itu sendiri. Kadang kita berprasangka buruk pada orang lain namun pada kenyataannya prasangka itu jatuh pada diri kita sendiri. Seperti halnya yang terjadi pada Ibra beberapa pekan lalu. Ia menyangka temannya mencuri uang untuk membeli sepatu yang diinginkan. Tetapi pada kenyatannya Rony temannya  telah adalah seorang anak tunggal dari Kepala Sekolahnya. Tidak ada yang tahu tentang fakta Rony tersebut. Sehingga membeli sepatu semahal apapun adalah hal yang lumrah baginya. Sedangkan Ibra dan temannya memang selalu bersama. Namun, ibarat kata mereka selalu bersama namun yang Ibra ketahui dari temannya itu sebatas kulit-kulitnya saja. Ia tidak begitu mengenal Rony sebaik yang ia pikirkan. Beberapa waktu lalu Ibra telah membeli sepatu yang ia idamkan. Sepatu yang tergolong mahal dan trend dipakai oleh anak-anak muda jaman sekarang. Namun ternyata uang yang ia gunakan adalah hasil menjual barang-barang elektronik seperti handphone yang ia curi di beberapa rumah di sekitar kediamannya. Terkait hal tersebut, Ibra berprasangka kepada Rony sebagaimana Ibra berprasangka pada dirinya sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang yang berprasangka terhadap orang lain adalah tidak terlepas dari pengalamannya sendiri. Apa yang orang gambarkan terhadap orang lain adalah bentuk penggambaran karakter dirinya sendiri. Ada pula uangkapan yang mengatakan "ketika Anda menyinggung orang lain maka yang duluan tersinggung adalah diri Anda sendiri". Ungkapan tersebut secara tidak langsung memberikan kita peringatan bahwa kita tidak bisa mengekstrospeksi orang lain sebelum mengintrospeksi diri sendiri. Karena pada hakikatnya ketika kita memberikan gambaran kita terhadap orang lain maka kita seperti menggambarkan diri kita sendiri.

      Berprasangka itu manusiawi. Dalam Al-Qur'an telah dijelaskan tentang prasangka yang merupakan salah satu sifat manusia. Dan, kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan mereka sendiri. Allah berfrman  "Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Yunus: 36). Ayat ini telah menegaskan bahwa hanya Allah mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan. Terlebih niat kita dalam melakukan segala sesuatu. Prasangka juga tidak hanya sebatas perkara sesama manusia. Tetapi manusia juga berprsangka kepada Tuhannya (Allah). Dalam hal ini Abu Hurairah mengatakan dalam hadisnya:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

      Sebagaimana hadis di atas telah menjelaskan bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Husnuzhan terhadap Allah, itulah prasangka yang semestinya kita tanamkan dalam diri kita. Termasuk misalnya husnuzhan dalam berdoa. Kita sudah sepatutnya berdoa dengan meyakini bahwa doa kita akan terkabul dengan terus menerus berdoa. Hal ini telah menunjukkan sifat husnuzhan kita terhadap-Nya. Akan tetapi, ada hal yang perlu diperhatikan agar doa menjadi terkabul yaitu dengan menghindari pantangan-pantangan yang dapat menghalangi terkabulnya doa.

اُدْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, no. 3479. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

      Berprasangka baik (husnuzhan) terhadap Allah SWT semestinya menjadi kebiasaan kita. Yaitu dengan mengingat-Nya di setiap keadaan. Bukan hanya mengingat pada saat dalam keadaan susah, tetapi juga mengingat-Nya dalam keadaan suka (senang). Karena Allah berfirman bahwa Allah akan mengingat hamba yang mengingat-Nya bahkan di hadapan makhluk yang lebih mulia daripadanya yaitu malaikat. Begitupun berprasangka terhadap sesama. Kita mesti menjauhi sifat su'uzhan terhadap sesama. Tetapi tidak pula kita luput dengan memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini bukan berarti kita su'uzhan, tetapi kita hanya menghindari kemungkinan terburuk yang akan menimpa diri sendiri. Seseorang mesti tahu kapan ia harus husnuzhan terhadap sesamanya untuk menghindari hal-hal yang tidak seharusnya terjadi.

~Fastabiqul Khaerat~

 

     

     

Penting Cangkir atau Isinya?

                 Beriringan Lebih Bijak

      Keindahan terkadang menenggelamkan sesorang dari lautan yang dangkal. Banyak  berpikir bahwa yang indah itu berarti baik. Sekalipun itu tidak terlontarkan dari mulut mereka tetapi tindakannya seolah menganggap demikian. Padahal apa yang terlihat indah belum tentu baik. Perihal indah, ada yang menarik ada pula yang tidak menarik. Yang menjadi pada manusia adalah ketertarikannya pada sesuatu yang indah tapi bersifat sementara. Memang tidak ada yang kekal di dunia ini. Semuanya akan pudar seiring berjalannya waktu. Namun sadarkah kita betapa pentingnya sebuah visual (tampilan) yang menarik? Realitas memang selalu berbanding terbalik dengan apa yang kita harapkan. Penampilan adalah hal yang paling utama diperhatikan oleh setiap orang. Bahkan makanan pun yang menjadi pusat perhatian adalah kemasannya. Apabila ia rusak berarti tidak layak dibeli. Hanya diperlukan waktu setengah sampai tiga puluh detik bagi mereka untuk menjatuhkan vonis penilaian pada diri kita. Begitu impresi pertama itu tercipta, nyaris tidak mungkin bagi mereka untuk mengubah pikiran. Coba renungkan sejenak berapa banyak tawaran yang gagal kita raih dan kesempatan yang lewat begitu saja karena pribadi kita divonis berdasarkan penampilan yang kurang menarik?

      Memang benar, menilai seseorang dari luarnya saja tidak cukup. Akan tetapi, kebanyakan orang berpikir bahwa jika tampilan luarnya saja sudah tidak menarik apalagi dalamnya. Tampilan yang menarik tentu akan mengundang rasa penasaran. Termasuk tulisan ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penampilan adalah objek pertama yang dinilai oleh setiap orang. Bahkan kita akan divonis tidak sopan jika berpenampilan tidak menarik. Terlebih lagi ketika hendak menghadiri suatu pesta, namun seseorang mengenakan pakaian sehari-hari untuk menghadiri pesta tersebut, maka bisa jadi orang ini akan dianggap tidak sopan oleh pemilik pesta tersebut.

      Selanjutnya, penampilan lagi dan lagi menjadi dasar penghargaan orang lain terhadap seseorang. Orang yang berpenampilan dengan barang-barang mewah serta mahal akan dihargai lebih oleh orang banyak. Perlakuan yang sopan tidak henti-hentinya diberikan kepada orang tersebut. Seperti halnya dalam suatu perkumpulan ibu-ibu arisan, akan ada ajang pamer perhiasan satu sama lain. Namun karena hanya satu orang diantaranya selalu memakai perhiasan yang paling mahal dan mewah, akhirnya dialah yang selalu mendapat perlakuan istimewa di kalangannya. Bentuk perlakuan ini tidak terlepas dari sudut pandang setiap orang ketika berada di suatu tempat. Orang yang menganggap penampilan adalah segalanya biasanya hanya bergaul dengan sesamanya. Sehingga tercipta perlakuan saling menguntungkan di dalamnya. Berbeda dengan yang menganggap penampilan bukanlah segalanya. Mereka secara pergulan sudah dipastikan tidak akan pilih-pilih. Dan juga tidak akan menilai orang berdasarkan penampilan. Melainkan menilai seseorang dari segi aspek lainnya. Namun demikian, orang jenis ini jarang ditemukan di masyarakat. Kebanyakan diantara masyarakat baik golongan kelas kaya maupun miskin sering kali menjadikan penampilan sebagai tolak ukur dihargainya seseorang. Sebagai contoh misalnya, perbandingan antara pencapaian si Kaya dan si Miskin. Lalu diberi ucapan selamat disertai dengan kado. Si kaya dapat kado yang yang harganya selevel dengan seleranya sedangkan si Miskin dapat hadiah yang selevel pula dengan seleranya. Sedangkan hadiah akan mendapat nilai lebih jika ia berupa sesuatu yang langka. Namun yang terjadi tidak demikian. Hanya karena Orang yang memberi hadiah ini ingin diakui berada, maka dari itu dia berusaha mati-matian untuk memperjuangkan jiwa sosialitanya. Dengan memberikan hadiah yang mahal kepada si Kaya maka ia akan dihargai oleh si Kaya. Meskipun sebenarnya ia tidak tergolong tidak mampu. Barangkali itulah pemikirannya.

      Banyak peluang yang mengandalkan penampilan. Oleh karenanya kita dituntut agar mengutamakan yang namanya penampilan. Ada ungkapan yang mengatakan "jangan nilai sesuatu dari covernya". Yang menarik adalah ungkapan tersebut tidak sesuai dengan tuntutan realitas. Ada juga ungkapan yang mengatakan "seseorang akan mencari cerminan dari dirinya". Artinya seseorang akan menilai sesuai dengan apa yang ada pada dirinya. Jika orang ini penampilannya selalu dan suka yang sederhana maka ia akan mencari yang sederhana pula. Akan tetapi, tindakannya tidak pernah sesuai dengan yang ia utarakan. Dia mengatakan A namun tidakannya ternyata B. Jadi, kita tidak perlu mengeluarkan celoteh yang tidak sesuai dengan realita yang ada. Bukan berarti kita tidak menghendaki perubahan. Namun kita semestinya senantiasa berinstrospeksi diri sebelum melakukan ektrospeksi diri terhadap orang lain. Karena apa yang kita nilai dari orang lain tidak terlepas dari pengalaman kita sendiri. Sehingga ketika kita menilai orang lain, pada hakikatnya kita sedang menilai diri sendiri. Orang lain yang dikatai penakut, ternyata kita jauh lebih penakut. Dengan demikian, persepsi tentang penampilan bagi tiap-tiap orang, meskipun berbeda, akan tetapi mereka akan tetap dipertemukan dengan realita yang ada.

       kemudian apakah penampilan tidak tergolong kualitas diri? sepintas kita akan mengatakan tidak. Namun bagaimana dengan guru yang berhadapan dengan siswanya? apakah ia mampu meyakinkan siswanya dalam proses pembelajaran? Tentu saja tidak. Guru yang berpenampilan dengan pakaian tidak rapi atau acak-acakan akan menimbulkan pusat perhatian bagi siswanya. Sedangkan guru merupakan sosok yang menjadi model bagi siswanya. Sehingga apabila ia berpenampilan rapi, ia akan dinilai lebih etis oleh siswanya sendiri dan juga para guru lainnya. Selain itu, secara tidak langsung guru juga telah mengajak siswanya agak berpenampilan rapi ketika hendak ke sekolah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penampilan adalah termasuk kualitas diri.

      Berbicara tentang kualitas diri, ada ungkapan yang menarik "jangan sibuk memperindah cangkir sedangkan isinya kau lupakan bahwa itu jauh lebih penting." Memang benar kita tidak boleh mengabaikan isi. Tetapi ungkapan ini lebih cocok pada mereka yang hobi bermewah-mewahan. Namun lupa akan kualitas dirinya yang berupa isi. Penampilan yang diibaratkan sebagai cangkir dan kualitas diri diibaratkan sebagai isi cangkir. Terdapat beberapa kalangan yang lupa akan isi. Dan itu tidak luput dari perhatian orang-orang tertentu. Akan tetapi, kembali kita memposisikan diri kita masing-masing. Bahwa setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Jika kita hendak menilai orang lain, maka hendaknya kita tidak hanya mengandalkan indra penglihatan. Belum tentu mereka yang berpenampilan mewah tidak mengisi dirinya dengan ilmu. Bisa jadi dia unggul di kedua-duanya. Unggul dalam hal penqmpioan maupun ilmu. Sementara subjek yang menilai terkadang terkadang tidak memiliki salah satunya. Sehingga ketika ia hendak menilai orang lain, ia seolah menilai dirinya sendiri. Sesibuk-sibuknya kita adalah memperbaiki diri masing-masing. Bukannya sibuk menilai orang lain. Sepintar-pintarnya kita memberi contoh adalah dengan praktik.

       Berpenampilan menarik sudah pasti indah dipandang. Segala sesuatu yang memiliki nilai estetika yang tinggi akan lebih diperhatikan dibanding yang lain. Tidak jarang orang-orang memperindah penampilan hanya karena haus akan sanjungan. Di sinilah peranan penampilan yang indah kembali dimanfaatkan untuk mendapat perhatian berupa sanjungan. Hal ini dikarenakan manusia memiliki salah satu fitrah yaitu selalu ingin diperhatikan. Begitu pula ketika Anda berceramah di suatu tempat umum. Maka yang menjadi perhatian utama adalah penampilan yang estetik. Penampilan yang estetik juga menambah nilai jual segala sesuatu. Orang yang haus akan sanjungan dari segi penampilan biasanya akan mencari berbagai cara agar apa yang ia inginkan bisa tercapai. Bahkan seseorang yang berbicara di depan kita. Apabila pembawaannya kurang menarik termasuk sikapnya, maka tidak akan ada orang yang memperhatikannya. Orang yang berada di kalangan kelas atas rata-rata memandang berbagai hal dari segi penampilan mewah Sehingga apapun itu akan terlihat indah ketika sesuatu itu termasuk kategori mewah. Jadi, penampilan pada hari ini tidak mesti dinilai dari segi mewah atau tidaknya, mahal atau murahnya, dan sebagainya.

      Jadi penampilan tidak mesti menyesuikan dengan kualitas diri berupa isi lantas memperbaikinya. Namun, alangkah baiknya jika cangkir beriringan dengan kualitas isinya. Ibarat kata "sampul tidak menghianati isi". Dengan demikian seorang perempuan tidak mesti baik akhlaknya dulu baru menutup aurat. Namun menutup aurat lebih baik jika sambil beriringan memperbaiki akhlaknya.
    

Perubahan? Mencari Jati Diri yang "terbuang"

Perubahan? Mencari Jati Diri yang "terbuang"

      Pernahkah kalian berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak pernah berubah di dunia ini? Tentu saja perubahan itu sendiri. Seperti apakah itu perubahan? apa yang perlu diubah? dan berawal dari manakah perubahan itu terjadi? Seorang guru yang bercita-cita ingin sukses di bidangnya. Namun dia begitu terkungkung dengan realita yang ada. Dia adalah salah seorang yang menjadi trending fashion di kalangan para guru muda di Sekolah yang bertajuk sekolah Swasta favorit yang setingkat dengan SMA. Sebut saja Kota Belok. Guru ini bernama Ibu Lola.  Secara materi, dia tergolong pas-pasan. Dia tidak menyadari bahwa dirinya bukanlah dirinya yang sebenarnya. Lantaran pembawaannya yang selalu seperti dibuat-buat selayaknya orang kaya. Sosok guru tidak perlu meniru orang lain agar mendapat sanjungan dari orang lain. Dia selalu meniru cara berpenmpilan salah satu guru yang juga menjadi trending fashion di kalangan para guru di sekolah itu sendiri. Guru yang kebanyakan memakai barang-barang mewah namun sesuai dengan isi dompetnya. Apalah daya seorang Ibu Lola ini selalu mengikuti model para guru yang tidak sepadan dengannya. Memang Sekolah tersebut sebagian besar penghuninya adalah kebanyakan orang kaya. Sehingga seseorang yang memasukinya tidak menutup kemungkinan untuk mengikuti kebanyakan diantara mereka. Terutama dari segi cara berpenampilan. Itulah yang terjadi pada Ibu Lola yang berusaha menyepadankan diri dengan mereka. Hal ini dikarenakan pemikiran Ibu Lola yang ingin menjadi teladan bagi siswanya hanya sebatas penampilan.

      Guru tidak perlu melakukan perubahan semacam itu. Guru tidak perlu melakukan segala sesuatu jika hanya untuk disanjung. Orang yang haus sanjungan adalah orang yang tidak berani menjadi diri sendiri. Guru semestinya menjadi teladan bagi siswanya. Cukup berpenampilan apa adanya dan rapi. Itu sudah menunjukkan contoh bentuk teladan yang diperlihatkan oleh guru. Melakukan perubahan sejenis Ibu Lola sama dengan tidak adil pada diri sendiri. Kecuali di dalam perubahan yang ia lakukan tidak ada unsur paksaan. Ada banyak hal yang bisa membuat diri menarik sebagai guru. Agar menjadi sosok teladan bagi siswa dan disanjung oleh orang lain baik siswa maupun para guru lain di lingkungan sekolah. Berpenampilan dan bersikap menarik bukan berarti harus tampil dengan barang-barang mewah atau glamour lantas menjadi terlihat menarik. Tetapi cukup mengenakan pakaian rapi, sopan dan menarik sehingga dapat meningkatkan minat belajar peserta didiknya. Secara tidak langsung, setelan pakaian yang demikian berdampak pada pembawaan sikap. Orang yang berpenampilan rapi, sopan dan menarik sangat jarang berperilaku atau bersikap tidak santun. Sebaliknya, ia akan menempatkan diri di setiap keadaan dengan santun.

      Ibu Lola selama ini telah melakukan perubahan. Namun sangat disayangkan perubahannya itu seolah memposisikan dirinya sebagai orang lain. Seseorang seharusnya memperkenalkan dirinya terlebih dahulu pada dirinya sendiri. Sehingga mampu mengenal kelebihan dan kekurangannya. Dengan demikian, seseorang dapat melakukan perubahan dalam dirinya. Apakah menambah yang kelebihan dan mengurangi yang kekurangan. Atau bahkan Mengurangi yang kelebihan dan menambah yang kekurangan. Perubahan yang dimaksud di sini tentunya ke arah yang positif. Jangan acuh dan enggan memahami diri sendiri. Pribadi yang kreatif tentu akan mencoba mencari tahu perihal jati dirinya. Namun seorang guru tidak perlu mencari jati dirinya ke sana kemari seperti halnya Jackie Chan dalam film "Who am I"  yang mengajak penonton menelusuri jati dirinya yang "terbuang". Terkait hal ini, cara mengetahui jati diri atau memahami diri sendiri dapat dilakukan dengan refleksi diri atau dalam bahasa Arab dengan muhasabah. Dimana seorang guru mesti bercermin pada diri sendiri mengenai tujuan mengajar, siapa dan bagaimana manusia pembelajar, apa tugas dan fungsi seorang guru, kapan dan di mana guru mengajar, mengapa peserta didik perlu diajari dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menyangkut pembelajaran itu sendiri. Kita juga mesti menyadari bahwa yang mengetahui diri kita adalah kita sendiri, bukan orang lain. Bahkan orang terdekat pun tidak mengetahui diri kita sepenuhnya, kecuali sisi luarnya. Dan jika kita tidak mengetahui hakikat diri sendiri, kita pun akan menjadi layaknya bebek yang ikut ke sana kemari menguntit tuannya.

      Itulah yang terjadi pada Ibu Lola yang seolah mempertuankan realita yang ada di sekelilingnya akibat dari ketidak tahuannnya tentang hakikat dirinya sendiri sebagaimana mestinya seorang guru bersikap. Dia telah mengikut pada trend yang ada sehingga ia melakukan perubahan dengan unsur keterpaksaan. Seorang guru justru harus berani menjadi diri sendiri. Berani menjadi diri sendiri tentu tidaklah mudah. Berani menjadi diri sendiri berarti tidak terkungkung oleh realitas dan tekanan dari lingkungan. Apabila kita ingin orang lain tertarik kepada kita, maka jadilah diri sendiri. Kunci menjadi diri sendiri berakar pada penggunaan potensi diri, bukan berakar dari penampilan luar semata. Berani menjadi diri sendiri bukan berarti menutup diri untuk terus belajar. Sebab perubahan hadir sebagai hasil dari pembelajaran. Oleh karena itu, sebagai guru yang cerdas mesti mampu mengupayakan agar proses belajar mengajar lebih menyenangkan dengan optimalisasi diri. Berani menjadi diri sendiri sama dengan tidak menyiksa diri. Jangan takut berbeda dengan orang lain.

      Adapun inspirasi yang paling efektif dilakukan oleh guru ialah melalui tindakan dan perilaku guru sendiri. Disadari atau tidak, perilaku guru acap menjadi rujukan peserta didik dalam bertindak. Seperti sebuah ujaran "guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Seperti itulah cara peserta didik bertindak. Ia akan mengikuti bahkan melakukan yang lebih parah dari yang guru lakukan. Terdapat banyak cara untuk menginspirasi peserta didik. Tidak hanya dari segi penampilan, tetapi juga dengan melalui humor, motivasi, audio dan sebagainya. Akan tetapi, metode-metode yang dipakai dalam pembelajaran tidak terlepas dari karakter dasar masing-masing guru yang berbeda. Sehingga perubahan yang diinginkan tidak terjadi karena unsur tekanan, keterpaksaan dan sebagainya. Menginginkan sebuah perubahan bukan berarti seseorang tidak berpendirian. Namun melalui perubahan bisa jadi melahirkan hal-hal yang positif dan menggugurkan hal-hal yang negatif.
      
     

Student's Experiences

Jangan Nilai Covernya

Jangan Nilai Covernya      Suatu hari,  seorang laki-laki masuk di restorant yang tergolong elit dengan baju compang camping. Rest...

Jangan Nilai Covernya